11.1.08

Soeharto Sakit, Bencana Mereda

BENCANA banjir, tanah longsor, gempa bumi yang bagai serentak terjadi di akhir 2007, berlanjut di awal 2008 secara mendadak mereda, bebarengan dengan mantan Presiden Soeharto jatuh sakit, pada Jumat (4/1) pukul 14.15 WIB dibawa ke RSPP hingga hari ini. Demikian catatan perkembangan terkini atas fokus pemberitaan media massa secara nasional.

Apabila mengamati pemberitaan media massa di akhir 2007, Indonesia seolah tak pernah lepas dari musibah. Berita meninggal, rumah roboh oleh banjir, karena tanah longosr, dan gempa bumi, juga angin puting beliung senantasa menghiasi halaman utama mayoritas menia massa. Mengerikan. Seolah tidak ada ruang yang aman dari ancaman bencana.

Demikian pula, memasuki 2008, fokus pemberitaan nasional masih sama, seputar bencana. Kalau pun ada berita sekitar tahun baru, itupun lebih memilih memberitakan malam tahun baru di daerah yang mengalami bencana. Antara lain, bermalam tahun baru di atap rumah.

Di penghujung 2007 dan awal 2008, mayoritas media massa memang melantunkan lagu yang sama. Menggugah rasa rakyat secara nasional, untuk turut prihatin atas duka lara yang dialami oleh saudara yang lain, yang tak henti-hentinya didera bencana.

Namun, memasuki hari kelima Januari 2008, bencana seolah telah mereda. Berita seputar aktvitas gunung Agung di Bali, atau gunung Kelud di Jatim, juga gunung Semeru, mulai sulit ditemukan.

STOP PRESS
Kini fokus media beralih, mengajak segenap bangsa Indonesia untuk mengetahui kondisi mantan Presiden Soeharto yang lagi-lagi, jatuh sakit, mulai Jumat (4/1) lalu. Malah, hampir semua stasiun televisi, senantiasa siap meluncurkan "stop press" di antara acara tetapnya, menginformasikan perkembangan terakhir kesehatan Soeharto yang lahir di Desa Kemusuk, Argomulyo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), 8 Juni 1921.

Padahal, Soeharto sakit bukan hanya saat ini. Sejak lengser telah beberapa kali dirawat di rumah sakit. Apalagi sekarang. Bagi seorang Soeharto yang pada 8 Juni mendatang genap berusia 87 tahun, kiranya sakit sebagai hal yang biasa. Lumrah. Manusiawi. Sosok Soeharto memang sudah sepuh.

Tetapi, pada kenyataannya ketika Soeharto sakit, media massa senantiasa menaruh perhatian khusus.

Soeharto memang wajar mendapatkan perhatian khusus dari media. Beliau pernah memerintah negeri ini sekitar 32 tahun lamanya. Banyak warga negara ini, yang mengawali kerja ketika Soeharto telah menjabat Presiden dan pensiun, ketika Soeharto masih sebagai presiden. Bersama Soeharto, bangsa Indonesia banyak mencatat kenangan suka dan duka.

BELUM SATU SUARA
Sekalipun demikian, ketika dicermati pemberitaan atas Soeharto saat ini, luar biasa. Berita kesehatan Soeharto mengungguli pemberitaan seputar bencana, dan pemberitaan lanjutan pasca bencana untuk sejumlah daerah di Indonesia.

Sungguhkah, bangsa ini lebih bersedih ketika penguasa Orde Baru (Orba) ini sakit ketimbang adanya bencana?. Atau, benarkah bangsa ini lebih bersuka ketika Presiden RI Periode 1966-1998 ini sakit? Mengapa pula yang menjadi sumber ekspose besar-besaran justru ketika Soeharto sakit, seperti sekarang ketika badai bencana sedang berlangsung?

Memang, tak mudah untuk memahaminya. Demikian pula arah pemberitaan di antara media massa. Belum satu suara. Warna pemberitaan tentang Soeharto, masih beragam. Ada media yang sekaligus membangun opini, menumbuhkan kenangan indah atas keberhasillannya. Juga, sebaliknya.

Ada pula yang sekadar pendekatan popularitas. Penyajian tak ubahnya menempatkan Sosok Soeharto sebagai tontonan. Malah di antaranya memperlihatkan canda ria di rumah sakit pertamina. Entah apa maksudnya.

Kini kiranya yang lebih bisa dimengerti, atas bergesernya fokus berita Bencana ke Soeharto, justru tentang keberadaan media itu sendiri. Tak dapat dipungkiri, di antara media sanggup menyanyikan lagu yang beda, terutama bagi media yang telah larut dalam bisnis kepentingan.

Hal itu juga sekaligus tolok ukur ternyata masih ada perbedaan di antara kemauan politik nasional terhadap sosok Soeharto. Juga, masih ada kemauan politik, yang menolak memahami keputusan Soeharto, yang lebih memilih lengser dari jabatan Presiden pada 21 Mei 1998.