PERKEMBANGAN dunia media dewasa ini, membuahkan kita makin membutuhkan kecermatan untuk memahami pesan – pesan yang disampaikannya. Malah, demikian sulit membedakan, antara media bisnis atau bisnis media, opini bisnis atau bisnis opini.
Bahkan, kini mudah ditemukan media, dalam sepak terjangnya, kadang justru membingungkan pembaca/ pemirsa-nya. Terutama yang masih berasumsi bahwa media adalah lembaga luhur, mengemban tugas sebagai kontrol sosial.
Perkembangan media memang makin kompleks. Bahkan, tak sedikit di antara media telah larut dalam bisnis kepentingan. Memang sah-sah saja. Sementara, lembaga pers, berikut perundangannya, juga perundangan yang lain, memang tak ubahnya traffic light, yang merah kuning hijau itu. Sekalipun pada saatnya lampu merah menyala, tidak selalu para pengguna jalan harus berhenti. Selalu saja ada perkecualian.
Kalau pun sang penerobos tidak memiliki kartu perkecualian, bukan berarti tidak boleh melakukannya. Masih ada yang sanggup untuk melanggar, terutama yang telah punya bekal kemampuan untuk menyelesaikannya.
Demikian pula di dunia media. Hanya saja dampak yang diberikan media ini relatif besar, mengingat kelebihannya dalam membangun opini. Lebih ekstrem lagi, kalau dikatakan pers tak pernah lepas dari ideologi. Ini memang riil.
Saya memang selalu tertarik dengan bahasan media. Saya juga pernah terlibat didalamnya. Saya sempat hidup dari media konvensional, seperti Surabaya Post (1984-1990). Saya juga pernah mengelola media tiga BUMN, dengan sasaran antara lain meredam resiko demo para buruh (1990-1992).
Saya pernah menangani penerbitan buku. Saya pernah pula menerbitkan media untuk kepentingan Supermarket terbesar di Surabaya, tahun 1990-an, dengan omzet 6000 eks. Semua biaya dan gaji harus cari sendiri, dari iklan. Ini mengesankan. Ternyata hal itu bisa dilakukan, meski bukan di Jakarta.
Sekarang saya aktif bekerja untuk medianet dan mengelola beberapa site pribadi (maksudnya, milik orang lain) dan juga perusahaan industri.
SEMUANYA SEMAUNYA
Mengenai judul tulisan ini, hanya sekadar pertimbangan terpendek. Kalaupun dikritik, saya memaklumi.
Atas judul diatas bukan hanya putri-ku. Di antara teman-teman wartawan pun, terutama yunior, juga mengalami hal sama. Demi sukses dalam prakteknya, kadang ia harus menanggalkan semangat yang lahir setelah membaca teori fungsi pers. Ini kenyataan. Kita memang bukan lagi hidup di jaman pers idealis, tapi pers industri.
Maka, wajar pula bila di negeri ini sering terjadi peristiwa perampasan, kadang perusakan, malah penganiayaan Wartawan oleh aparat atau oknum.
Sebaliknya, kasus serupa, kadang juga dialami anggota masyarakat. Ia merasa dirugikan oleh Wartawan. Semuanya semaunya. Karepe dewe. Bergantung kepentingan siapa, yang memiliki kekuatan untuk menggilas kepentingan yang lain. Pada gilirannya, penyelesaiannya pun, lagi-lagi bergantung kepentingan siapa dan untuk apa.
Maka, sebenarnya disini yang bingung, apalagi mendengar kasus-kasus tersebut bukan hanya putriku, atau istriku. Tetapi, banyak anak-anak temanku, juga para istri teman-temanku. Bahkan teman-temanku, kadang juga bingung mencermatinya.
Di sini kiranya kita juga wajib untuk saling mengingatkan. Kita juga perlu untuk saling mendapatkan pencerahan. Dengan demikian, kita berharap untuk sama-sama tidak terjebak dalam bisnis informasi atau bisnis opini yang tak keruan juntrungannya. Merugikan semua.
Salam
Priono Subardan[at]gmail.com