MAKIN meruncing pro - kontra terhadap keberadaan HM. Soeharto. Ada barisan yang tiba-tiba bersuara lantang menekankan pentingnya memaafkan, tanpa tahu kesalahannya. Barisan lain bersikukuh mengadili, seolah telah memahami persis letak kesalahannya. Sementara sang penguasa Orde Baru, yang menjadi sasaran tembak, masih terbaring kritis di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta hingga saat ini.
Kiranya, kita perlu merenung seribu kali, sebelum larut, sebelum terjebak dalam persoalan yang belum jelas ujung pangkalnya ini. Sebuah pertanyaan mendasar, harus mampu kita jawab sebelumnya. Bukankah memaafkan dan mengadili sebagai kehendak yang bermuara sama. Justru merupakan perlakuan terkeji bagi seseorang, sosok Soeharto, yang juga memiliki jasa atas negeri ini, Indonesia.
Kasus Soeharto memang persoalan bangsa. Itu karena Soeharto bukan si Suto. Itu karena Soeharto bukan si Marhaen. Soeharto bukan rakyat biasa. Soeharto, sosok pilihan bangsa Indonesia, yang pernah berpolitik di jamannya. Maka, kalaupun ada kesalahan, haruskah sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya. Padahal beliau duduk di singgasana secara legal opinion, memang sebagai yang dipilih. Bukan yang memilih sekaligus dipilih.
Ketika Soeharto menjadi sosok tak berdaya. Ketika senantiasa TV mempertontonkan rintihannya, ada kelompok yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Bahwa rakyat Indonesia merasa treyuh, setelah TV lebih dari sepekan mempertontonkan pak Harto dalam kondisi kesakitan, yang selalu dikeributan tim dokter kepresidenan.
Mereka terlalu cepat menilai bahwa rakyat Indonesia, yang sebagian masih buta huruf, pasti merasa iba setelah membaca berita tentang Pak Harto yang tak bisa bicara lagi, yang mulai kesulitan untuk bernafas, dan hanya keajaiban yang membuatnya kembali sediakala.
Setelah berkesimpulan, kemudian tiba-tiba muncul bagai panduan suara, berbagai tokoh menyuarakan perlunya memaafkan pak Harto. Mengagetkan. Kemauan politik apalagi ini. Apa makna dibalik memaafkan itu?. Ini layak dikaji.
Bukankah memaafkan, tanpa mengetahui letak kesalahannya, sama artinya dengan BOHONG. Memaafkan yang serta merta, bukankah terlalu keji untuk ketokohan seseorang. Memaafkan tanpa berdasar, bukankah sama artinya dengan memaksa seseorang untuk mengakui salah. Bahkan seratus persen salah. Tidak ada celah kebaikan atas Soeharto. Benarkah? Apalagi, yang bersangkutan tidak merasa bersalah dan ada kalanya memang, siapapun kadang tidak mengerti bersalah.
Demikian pula gerakan untuk mengadili. Sejauh itukah perlakuan ini terhadap sosok yang pernah membawa Indonesia di atas angin. Ini layak disimak.
DIANIAYA
Apalagi dalam bahasa politik, tidak selayaknya menelan begitu saja atas maknanya. Seringkali makna yang melekat justru berbalik pada prakteknya.
Kita masih ingat dengan bahasa diamankan. Dalam politik seringkali makna yang terkandung sama sekali tidak menyentuh soal aman atau keamanan. Sebaliknya, justru berartikan dianiaya.
Maka, seyogyanya kita mesti waspada dengan perkataan memaafkan maupun mengadili. Kalau pun makna pada prakteknya sama, dan dijalankan bukan berarti tanpa resiko. Persoalan pro kontra layak diwaspadai untuk makin menguat, dan membuahkan rakyat bingung. Apalagi, pers larut dalam keberpihakan.
Di sisi lain, rasa hormat para generasi terhadap pak Harto, yang bagaimanapun mantan presiden RI, menjadi tidak keruan. Para generasi menjadi lebih sulit memahami gading yang ditinggalkannya.
Para genenerasi juga makin tidak mengerti benang merah sejarah bangsanya. Para generasi lebih tidak mengerti kehidupan politik bangsanya. Maha hebat resiko itu.
TANTANGAN PERS
Di sini nurani pers diuji. Untuk membuat suasana nasional tidak lebih rumit adalah tantangan. Pers harus bergandeng tangan dengan penguasa, untuk memberikan pencerahan. Mendudukan persoalan pada posisi yang seharusnya. Demi kepentingan yang satu, nasional. Ini berarti pula menyatukan kemauan politik, untuk bertekad memperlakukan Soeharto sebagai bagian dari sejarah bangsa, sebagaimana adanya.
Dari pak harto, setidaknya masih ada episode yang disanjung oleh rakyat Indonesia. Tentu, atas keberhasilannya. Meski juga masih perlu diklarifikasi letak keberhasilan itu, terkait jika endingnya harus seperti sekarang. Hutan menjadi rusak. Negara menjadi tak berdaya oleh beban hutang, yang juga belum berkesudahan.
Dari pak Harto, juga ada episode yang dibenci oleh rakyat Indonesia. Konon tentang korupsi, yang juga layak dibuktikan. Sejauh mana kebenarannya? Toh yayasan Supersemar yang memberikan beasiswa bagi keluarga tidak mampu, memang nyata adanya.
Dari pak Harto, juga masih ada episode yang samar, yang ingin diketahui rakyat secara gamplang perihal proses ketokohannya. Konon membawa korban sebagian jiwa dan raga putra-putri pertiwi. Ini juga perlu diketengahkan, sebagai bagian dari sejarah bangsa, yang memang demikian adanya. Sekaligus sebagai obat atas dendam dan pemahaman, peristiwa lampau, yang mungkin memang ada dan menyakitkan bagi keluarga korban.
Jika semua episode dari pak Harto tersirat jelas dan memang semua pihak bertekad satu, demi kepentingan nasional, demi bangsa, demi generasi, niscaya HM. Soeharto pun tidak akan kehilangan rasa hormat. Rakyat Indonesia pun masih akan menyanjung atas gading yang ditinggalkannya, meski gading itu tak utuh lagi.
Kalau pun ada masa lalu yang kelam, kemudian dapat dilihat transparan, itu akan lebih melegakan dan sebagai warna dari perjalanan anak manusia, yang memang harus diketengahkan, dimaklumi dan diterima apa adanya. Dengan demikian, tidak ada lagi kasak-kusuk, yang justru merugikan kita semua. Semoga Indonesia segera bangkit. dan menjadi bangsa yang besar, sebagaimana potensi yang dimiliki. (*)
Kiranya, kita perlu merenung seribu kali, sebelum larut, sebelum terjebak dalam persoalan yang belum jelas ujung pangkalnya ini. Sebuah pertanyaan mendasar, harus mampu kita jawab sebelumnya. Bukankah memaafkan dan mengadili sebagai kehendak yang bermuara sama. Justru merupakan perlakuan terkeji bagi seseorang, sosok Soeharto, yang juga memiliki jasa atas negeri ini, Indonesia.
Kasus Soeharto memang persoalan bangsa. Itu karena Soeharto bukan si Suto. Itu karena Soeharto bukan si Marhaen. Soeharto bukan rakyat biasa. Soeharto, sosok pilihan bangsa Indonesia, yang pernah berpolitik di jamannya. Maka, kalaupun ada kesalahan, haruskah sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya. Padahal beliau duduk di singgasana secara legal opinion, memang sebagai yang dipilih. Bukan yang memilih sekaligus dipilih.
Ketika Soeharto menjadi sosok tak berdaya. Ketika senantiasa TV mempertontonkan rintihannya, ada kelompok yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Bahwa rakyat Indonesia merasa treyuh, setelah TV lebih dari sepekan mempertontonkan pak Harto dalam kondisi kesakitan, yang selalu dikeributan tim dokter kepresidenan.
Mereka terlalu cepat menilai bahwa rakyat Indonesia, yang sebagian masih buta huruf, pasti merasa iba setelah membaca berita tentang Pak Harto yang tak bisa bicara lagi, yang mulai kesulitan untuk bernafas, dan hanya keajaiban yang membuatnya kembali sediakala.
Setelah berkesimpulan, kemudian tiba-tiba muncul bagai panduan suara, berbagai tokoh menyuarakan perlunya memaafkan pak Harto. Mengagetkan. Kemauan politik apalagi ini. Apa makna dibalik memaafkan itu?. Ini layak dikaji.
Bukankah memaafkan, tanpa mengetahui letak kesalahannya, sama artinya dengan BOHONG. Memaafkan yang serta merta, bukankah terlalu keji untuk ketokohan seseorang. Memaafkan tanpa berdasar, bukankah sama artinya dengan memaksa seseorang untuk mengakui salah. Bahkan seratus persen salah. Tidak ada celah kebaikan atas Soeharto. Benarkah? Apalagi, yang bersangkutan tidak merasa bersalah dan ada kalanya memang, siapapun kadang tidak mengerti bersalah.
Demikian pula gerakan untuk mengadili. Sejauh itukah perlakuan ini terhadap sosok yang pernah membawa Indonesia di atas angin. Ini layak disimak.
DIANIAYA
Apalagi dalam bahasa politik, tidak selayaknya menelan begitu saja atas maknanya. Seringkali makna yang melekat justru berbalik pada prakteknya.
Kita masih ingat dengan bahasa diamankan. Dalam politik seringkali makna yang terkandung sama sekali tidak menyentuh soal aman atau keamanan. Sebaliknya, justru berartikan dianiaya.
Maka, seyogyanya kita mesti waspada dengan perkataan memaafkan maupun mengadili. Kalau pun makna pada prakteknya sama, dan dijalankan bukan berarti tanpa resiko. Persoalan pro kontra layak diwaspadai untuk makin menguat, dan membuahkan rakyat bingung. Apalagi, pers larut dalam keberpihakan.
Di sisi lain, rasa hormat para generasi terhadap pak Harto, yang bagaimanapun mantan presiden RI, menjadi tidak keruan. Para generasi menjadi lebih sulit memahami gading yang ditinggalkannya.
Para genenerasi juga makin tidak mengerti benang merah sejarah bangsanya. Para generasi lebih tidak mengerti kehidupan politik bangsanya. Maha hebat resiko itu.
TANTANGAN PERS
Di sini nurani pers diuji. Untuk membuat suasana nasional tidak lebih rumit adalah tantangan. Pers harus bergandeng tangan dengan penguasa, untuk memberikan pencerahan. Mendudukan persoalan pada posisi yang seharusnya. Demi kepentingan yang satu, nasional. Ini berarti pula menyatukan kemauan politik, untuk bertekad memperlakukan Soeharto sebagai bagian dari sejarah bangsa, sebagaimana adanya.
Dari pak harto, setidaknya masih ada episode yang disanjung oleh rakyat Indonesia. Tentu, atas keberhasilannya. Meski juga masih perlu diklarifikasi letak keberhasilan itu, terkait jika endingnya harus seperti sekarang. Hutan menjadi rusak. Negara menjadi tak berdaya oleh beban hutang, yang juga belum berkesudahan.
Dari pak Harto, juga ada episode yang dibenci oleh rakyat Indonesia. Konon tentang korupsi, yang juga layak dibuktikan. Sejauh mana kebenarannya? Toh yayasan Supersemar yang memberikan beasiswa bagi keluarga tidak mampu, memang nyata adanya.
Dari pak Harto, juga masih ada episode yang samar, yang ingin diketahui rakyat secara gamplang perihal proses ketokohannya. Konon membawa korban sebagian jiwa dan raga putra-putri pertiwi. Ini juga perlu diketengahkan, sebagai bagian dari sejarah bangsa, yang memang demikian adanya. Sekaligus sebagai obat atas dendam dan pemahaman, peristiwa lampau, yang mungkin memang ada dan menyakitkan bagi keluarga korban.
Jika semua episode dari pak Harto tersirat jelas dan memang semua pihak bertekad satu, demi kepentingan nasional, demi bangsa, demi generasi, niscaya HM. Soeharto pun tidak akan kehilangan rasa hormat. Rakyat Indonesia pun masih akan menyanjung atas gading yang ditinggalkannya, meski gading itu tak utuh lagi.
Kalau pun ada masa lalu yang kelam, kemudian dapat dilihat transparan, itu akan lebih melegakan dan sebagai warna dari perjalanan anak manusia, yang memang harus diketengahkan, dimaklumi dan diterima apa adanya. Dengan demikian, tidak ada lagi kasak-kusuk, yang justru merugikan kita semua. Semoga Indonesia segera bangkit. dan menjadi bangsa yang besar, sebagaimana potensi yang dimiliki. (*)