28.10.26

Hidup Mengikuti Hikmah: Menemukan Keindahan Sejak Usia 35

Jasmine Cordelia (cucu pertama), Urutan 2 - Media Setya Dewi (putri sulung paling kanan), Media Cato Dewa (putra kedua paling kiri), Media Farica Diva (putri ragil saat wisuda 2026/ tengah), urutan 3 - Priono Subardan (Penulis/ kanan), Istri (kiri), dan Achmad Risqon Chalimi (Menantu/ paling belakang)

ESAI Reflektif : Ada masa ketika hidup terasa berat, penuh tuntutan, dan seolah tak pernah cukup. Namun sejak usia 35 tahun, saya merasakan sesuatu yang berbeda: menjalani hidup ini terasa lebih indah.

Perubahan itu bukan karena keadaan luar berubah drastis, melainkan karena saya menemukan "resep hidup" yang mengubah cara saya memandang segalanya.


Resep Hidup: Mengalir pada Kebijaksanaan

Resep itu sederhana: dalam mengejar apa pun, lebih menekankan mengalir pada kebijaksanaan daripada menuruti keinginan.

Saya tidak lagi memaksa hidup untuk mengikuti kemauan sendiri, tetapi belajar membaca arah yang lebih bijak—melalui pengalaman, pelajaran, dan pemahaman yang mendalam.

Sejak menerapkan resep ini, banyak hal berubah. Salah satunya: atribut sosial seperti status dan gengsi tak lagi saya perlukan.

Dulu, hal-hal itu terasa penting untuk dijaga dan dikejar. Kini, justru terasa membebani. Melepasnya membuat hidup sehari-hari terasa jauh lebih ringan dan lapang.

Ingin menemui siapa pun, pilih yang praktis bisa memakai sepeda motor. Pergi malam hari di kawasan rawan pun terasa sangat menikmati menggunakan motor buntut yang tak menyilaukan mata. Dengan demikian, pikiran bisa tetap fokus pada analisa.

Media Farica Diva, Putri ragil yang wisuda pada 2026, langsung bergabung dengan bank BCA. Masa pendidikan dijalani sebelum wisuda.


Pemicu di Usia 35: Krisis 1998 dan Titik Balik

Adalah tahun 1998 yang menjadi pemicu perubahan besar dalam hidup saya. Ketika itu, usia saya genap 35 tahun. Bersamaan dengan itu, Indonesia memang dilanda krisis yang sangat parah. 

Krisis diawali pertengahan tahun 1997, kemudian memuncak pada tahun 1998 dan berkembang menjadi krisis ekonomi, sosial, dan politik yang menyeluruh.

Bayangkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terdepresiasi dari sekitar Rp 2.500 menjadi di atas Rp 16.000, bahkan pernah menyentuh level terendah sekitar Rp 16.800 pada bulan Juni 1998. 

Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cerminan kehancuran sendi-sendi perekonomian yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Bagi saya, angka itu punya wajah. Usaha percetakan dan jasa kehumasan yang saya jalani—yang selama itu menjadi tumpuan keluarga—mendadak kehilangan pijakan. 

Pasar korporat, yang menjadi langganan utama, satu per satu menutup pintu karena mereka sendiri sedang kesulitan keuangan. 

Pesanan menurun, pendapatan menyusut, sementara kebutuhan keluarga tidak ikut menunda diri.

Di titik itulah saya merenung. Kesulitan merata. Tidak mungkin saya tetap menjual jasa kepada pasar yang sedang sekarat. Saya harus membaca arah yang lebih bijak: bahwa mayoritas warga kini harus berhemat. 

Dari situ saya berbelok ke produksi telor asin, dengan asumsi telor adalah sumber gizi yang murah dan mumpuni untuk bersanding dengan nasi atau bubur.

Media Farica Diva sejak kecil akrab dengan dunia hewan, termasuk anjing trah besar Herder, sehingga mendorongnya pingin jadi dokter hewan. Setelah lulus SMA, berbelok ke fakultas pertanian.

Namun keputusan berbelok saja tidak cukup. Berada di iklim krisis yang parah, pengeluaran harus dihemat. Maka diputuskan pula hal yang jauh lebih berat: menguangkan polis asuransi pendidikan anak yang bernilai dolar AS. 

Polis itu adalah jaring pengaman yang sengaja saya siapkan jauh-jauh hari untuk masa depan anak. 

Melepasnya terasa seperti membuka payung di tengah hujan—tetapi justru itulah yang harus dilakukan agar keluarga tetap bisa berjalan.

Keputusan itu tidak mudah. Tetapi keadaan menuntut pilihan yang tidak selalu menyenangkan. Dan ternyata, di sinilah hikmah bekerja dengan cara yang tak saya duga. 

Dampak dari berbelok ke usaha telor asin selama masa krisis membuahkan senyuman yang indah: kebutuhan keluarga tetap terjaga, anak-anak tetap dapat melanjutkan pendidikan, dan usaha baru itu justru tumbuh di tengah kesulitan.

Dalam penjualan pun saya tidak langsung ke resto, tetapi ke warga dengan cara online melalui telorasin(dot)com. 

Asumsi yang saya pegang: pelanggan resto sering memberikan referensi atas produk telur asin yang layak kepada resto favoritnya. 

Adalah benar. Di samping pelanggan perorangan sangat menyukainya hingga mendatangkan bahan baku dari Lamongan, sejumlah resto mengalir pesanannya. 

Krisis yang memaksa saya berbelok, ternyata membuka pintu rezeki yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Si ragil yang suka berkerabat dengan hewan.


Segala yang Ada Adalah Milik-Nya

Yang paling mengubah cara pandang saya adalah kesadaran ini: apa pun yang saya miliki adalah milik-Nya, dan tak akan saya bawa mati. 

Semua kemudahan yang saya nikmati bukanlah hak mutlak, melainkan titipan—seperti sewa yang harus saya bayar dengan keikhlasan.

Kesadaran itu semakin matang ketika saya merenungkan perjalanan hidup sendiri. Rumah yang kini saya tempati di kawasan Yayayan Kas Pembangunan (YKP) Pemkot Surabaya saya dapatkan pada 1992, ketika usia saya 29 tahun. 

Sejak 1994, saya menempatinya—dan hingga kini, saat usia saya 63 tahun, rumah itu masih menjadi tempat saya tinggal. Sudah lebih dari tiga puluh tahun saya mendiami rumah itu—bukan sebagai pemilik mutlak, melainkan sebagai penjaga titipan yang harus saya jaga dan syukuri.

Cara berpikir ini membuat saya tidak lagi merasa memiliki segalanya. Sebaliknya, saya merasa diberi kesempatan untuk memanfaatkannya dengan syukur. 

Beban untuk "mempertahankan" berkurang, dan rasa cukup tumbuh menggantikannya.

Media Farica Diva putri ragil ketika masih kelas 3 SD dengan sahabat karibnya.


Makna di Balik Kalimat "Hidup Mengikuti Hikmah"

Dari pengalaman itulah saya semakin memahami makna kalimat:

"Hidup mengikuti hikmah ternyata banyak menemukan keindahan."

Pertama, hidup mengikuti hikmah. Artinya menjalani hidup dengan berpegang pada kebijaksanaan—bukan sekadar ikut arus, emosi, atau keinginan sesaat. 

Hikmah di sini bisa berarti pemahaman yang mendalam, pelajaran dari pengalaman, atau cara pandang yang bijak dalam menyikapi segala hal.

Kedua, ternyata banyak menemukan keindahan. Ketika hidup dijalani dengan bijak, kita jadi lebih mudah melihat hal-hal indah yang mungkin sebelumnya terlewat—keindahan dalam hal sederhana, dalam proses, bahkan dalam kesulitan sekalipun.

Inti Maknanya

Kebijaksanaan mengubah cara kita memandang hidup. Orang yang menjalani hidup dengan hikmah tidak hanya mengejar hasil, tetapi juga menghargai proses. 

Dari situ, keindahan hidup—kedamaian, rasa syukur, makna—jadi lebih terasa dan mudah ditemukan.

Sederhananya: hidup yang dijalani dengan bijak akan membuka mata kita untuk melihat keindahan yang tersembunyi di banyak hal.

Catatan Tersendiri 2026

Pada 2026, ada catatan tersendiri yang membuat saya semakin yakin bahwa hidup yang dijalani dengan bijak memang menemukan keindahannya. 

Ketiga anak saya kini sudah bekerja semua—dan menariknya, mereka semua adalah alumni Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya, kampus yang jaraknya dari rumah kami tak lebih dari 1 km.

Anak pertama, Media Setya Dewi, putri kami, bekerja di Pemerintah Kota. Ia telah memberi kami cucu kedua, laki-laki lahir Oktober ini.

Adapun cucu pertama kami perempuan, bernama Jasmine Cordelia. Si sulung ketika remaja sempat aktif di olahraga menembak.

Anak kedua, Media Cato Dewa, telah memasuki tahun kedua bergabung dengan Bank Mandiri. Ia aktif di olahraga bulu tangkis—bahkan pada masa kuliah ia melatih ekstrakurikuler bulu tangkis, antara lain di SMA IPH Surabaya.

Anak ketiga, putri kami, Media Farica Diva, adalah alumni Fakultas Pertanian UPN Surabaya. Ia telah wisuda dan langsung bergabung dengan Bank BCA, dengan dinas pertama di BCA Ngagel Jaya. 

Ia aktif di olahraga panahan—dan hingga masa kuliah sampai bekerja, setiap hari Sabtu ia masih aktif melatih panahan di SMP Muhammadiyah Pucang.

Melihat mereka tumbuh dan mandiri, saya kembali diingatkan: anak-anak pun bukan milik saya mutlak, melainkan titipan yang telah Allah percayakan untuk saya jaga, didik, dan lepaskan pada waktunya. 

Kegiatan olahraga yang mereka tekuni sejak muda—menembak, bulu tangkis, dan panahan—secara tidak langsung mendidik kemandirian. 

Disiplin latihan, tanggung jawab pada jadwal, keberanian menghadapi pertandingan, dan kesediaan melatih orang lain adalah modal pribadi yang tidak ternilai bagi anak-anak—bekal yang akan mereka bawa jauh melampaui masa sekolah.

Kedekatan rumah dengan kampus UPN—tak lebih dari 1 km—menjadi salah satu kemudahan yang saya syukuri; sebuah "sewa" kecil yang saya bayar dengan rasa cukup.

Penutup

Bagi saya, usia 35 bukan sekadar angka. Ia menjadi titik ketika saya berhenti berlari mengejar keinginan sendiri dan mulai berjalan mengikuti hikmah. 

Krisis 1998 yang memaksa saya berbelok dari percetakan dan jasa kehumasan ke produksi telor asin mengajarkan satu hal berharga: ketika pintu tertutup, jendela hikmah terbuka.

Sejak itu, hidup terasa lebih ringan, lebih lapang, dan—tanpa saya duga—lebih indah.

Kini, di usia 63 tahun, saya menoleh ke belakang dan melihat buah dari perjalanan itu: rumah yang saya tempati sejak 1994 bukan lagi beban untuk dimiliki, melainkan titipan yang saya jaga dengan syukur. 

Perjalanan dari usia 35 hingga 63 mengajarkan saya bahwa keindahan hidup tidak datang dari apa yang berhasil kita miliki, tetapi dari cara kita memandang dan mensyukuri apa yang dititipkan kepada kita.

Mungkin benar apa yang dikatakan: ketika kita berhenti menuntut hidup untuk sesuai keinginan kita, justru saat itulah kita mulai menemukan keindahannya.

Jika hari ini Anda harus melepaskan satu atribut sosial—status, gengsi, atau jabatan—yang selama ini Anda jaga mati-matian, apa yang sebenarnya Anda takutkan kehilangannya: benda itu sendiri, atau cara orang lain memandang Anda?

Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan pengalaman pribadi penulis, dikaitkan dengan makna kalimat "Hidup mengikuti hikmah ternyata banyak menemukan keindahan."

Oleh: Priono Subardan