18.8.26

Dari Ruang Redaksi ke Ruang-Ruang Lain (Warisan bagian 2-9)


PEMAHAMAN itu tidak datang tiba-tiba. Ia lahir dari perjalanan panjang—sebuah petualangan intelektual dan spiritual yang membawa saya keluar dari zona nyaman, masuk ke dunia yang lebih berisik, lebih cair, dan lebih membumi.

Pernyataan ini sebagai artikel warisan ke-2 (dari 9 artikel), yang saya-Priono Subardan tulis di weblog pribadi pengingat untuk diri sendiri—dan siapa pun yang kebetulan singgah membaca.

Sempat setelah aktif menjadi wartawan, saya hijrah menjadi konsultan humas perusahaan swasta dan BUMN. 

Di sana, saya belajar bahwa informasi bukan sekadar komoditas, melainkan senjata strategis—bisa membangun reputasi, juga bisa meruntuhkannya dalam sekejap. 

Saya menyaksikan bagaimana sebuah kalimat yang salah tempat bisa mengguncang pasar, dan bagaimana keheningan yang terencana bisa meredam badai.

Saya pun belajar mengemas fakta bukan untuk mengguncang, tapi untuk menenangkan dan mengarahkan. 

Itu sebuah disiplin yang sangat berbeda dengan naluri wartawan yang terbiasa memburu kegaduhan.

Namun jiwa saya tak betah terlalu lama di balik meja rapat. Saya merindukan ketidakpastian, merindukan proses mencipta sesuatu dari nol. 

Maka saya pun melompat ke dunia yang sama sekali asing: membuka usaha produksi telur asin yang saya lengkapi dengan web telurasin.com.

Itu juga didorong oleh lokasi Rungkut, yang Medokan Ayu di kawasan pinggiran, para peternak bebek memberikan asupan kupang, sebagai makanan utama peliharaannya.

Tentu, hasil telornya membuahkan rasa yang lain, dan enak. Omzetnya jadi menggiurkan.

Saya belajar tentang fermentasi, tentang kadar garam yang pas, tentang pemasaran digital yang tak kenal ampun. 

Dari usaha ini saya mendapat satu pelajaran berharga: bahwa membangun merek sama seperti menulis berita—keduanya menuntut kejujuran pada produk, pada proses, dan pada publik yang mempercayai kita.

Pesan Utama
Keluar dari satu profesi bukanlah akhir. Itu adalah pintu menuju ruang-ruang baru yang mengajarkan kita bahwa keahlian lama bisa dipakai dengan cara yang sama sekali berbeda—asalkan kita berani memulai. (*)