22.12.07

Realita, Blog sebagai The New Media

MEDIA online, termasuk didalamnya paling gres, blog, sebagai The New Media adalah realita. Media ini semakin populer. Terutama ketika bisnis kepentingan semakin terbuka. Bahkan, menemukan media konvensional yang turut larut didalamnya lebih mudah, ketimbang sosok pers idealis yang mampu melakukan kontrol sosial, sebagaimana mestinya.

Tak dapat dipungkiri, fungsi pers yang sesungguhnya justru lebih melekat pada medianet. Ini yang menjadikannya makin diminati, yang bahkan tak bisa dihindari lagi pemunculannya.

Sebaliknya, keberadaan media konvensional (terutama cetak), karena tekanan persaingan pula, membuahkan makin sulitnya menemukan media yang menjual kejujuran pada produk informasinya. Sebuah kejujuran yang berpihak demi kepentingan bangsa dan negara.

Kalau pun ada yang “menggigit” seringkali justru tidak berpihak kepada semangat NKRI, melainkan lebih mengarah pada bisnis kepentingan, baik di ranah politik, birokrasi maupun bisnis riil, seperti tanpa tedeng aling-aling lagi.

Ketika pemerintah republik ini bersitegang dengan GERAKAN PENGACAU, misalnya, dengan berbagai alasan, termasuk didalamnya demi keseimbangan berita, sejumlah media mencari sensasi mengirim reporternya untuk berada di pihak GERAKAN PENGACAU.

Kasus lain, lebih sederhana, pemberitaan penggusuran kawasan strategis Kampung Tua Keputran Surabaya kota. Warna berita dari tiga media besar di kota itu berlainan. Sebuah media menekankan pada pentingnya keadilan. Media lain pro warga mempertahankan Kampung Tua, sebagai bagian dari sejarah. Sementara media ketiga, justru mendukung penggusuran, notabene rencana pemerintah kota, yang kemudian diketahui ternyata memang masih satu grup bisnis, dengan calon investor kawasan tersebut .

OPINI GRUP
Kejadian seperti di Surabaya ini sejak lama menjadi hal biasa. Berseliwerannya informasi yang tidak keruan juntrungannya, dewasa ini memang tidak bisa dihindari lagi. Masalahnya, media konvensional tidak ada lagi kekuatan untuk berdiri tegak. Ia telah larut dalam bisnis kepentingan. Ia telah masuk dalam cengkeraman bisnis industri. Ia harus bersinergi dengan bisnis grup-nya. Ia harus membentengi bisnis grupnya. Ia harus membangun opini publik atas bisnis grup-nya. Ia harus turut memekarkan penguasaan wilayah dari bisnis grup-nya.

Hal ini menjadikan pemenuhan informasi yang jujur demi masyarakat pembaca bukan lagi prioritas. Apalagi informasi yang hendak dimunculkannya mengotori citra bisnis grupnya. Maka, lebih baik digantikan berita lain yang aman. Toh pembaca tak peduli. Keputusan ini kiranya masih bijaksana dibanding menempatkan pembaca sebagai obyek dari sasaran informasi yang dibuatnya, seperti kasus di Surabaya itu.

Kondisi demikian ini sekarang makin dipahami oleh sebagian masyarakat. Mereka pun mulai meninggalkan media konvensional, dan mencari media alternatif lain. Memang angka pasti penurunan pelanggan suatu media cetak tidak dapat dimunculkan disini. Tetapi, sekadar parameter, kita bisa melihat perkembangan jumlah pelanggan koran di sekitar kita, para tetangga, termasuk intens mendengarkan berita radio, maupun televisi.

Tolok ukur lain profil media konvensional secara nasional, yang kondisinya sangat tidak menggembirakan. Ada pula yang jadwal terbitnya justru ditentukan oleh kepentingan sumber beritanya atau investor, yang membiayai iklannya. Entah siapa target pembacanya.

Para pembaca yang dinantikannya telah beralih, berpindah ke media lain yang sanggup memberikan informasi yang jujur, yakni media online, termasuk dalam bentuk Blog (Web-log), yang tidak dapat dibredel dari sisi manapun, selain harus membeli Amerika, untuk mengelabuinya. Tapi, siapa yang mampu?

INTERNET
Jumlah pengakses internet ini diperkirakan terus bertambah, seiring dengan menguatnya ekonomi individu. Ini juga didorong oleh kelebihan yang dimiliki oleh internet secara umum. Media ini mampu menyatukan kelebihan dari tiga media konvensional yang hadir lebih dulu (Cetak, radio, TV).

Kini masyarakat yang haus atas informasi kebenaran, setidaknya mulai berlega hati. Media alternatif yang dinantikan, ternyata akhirnya datang juga, meski dalam kemasan blog, dan memang tidak mungkin dalam bentuk konvensional.

Sekalipun demikian, masyarakat tetap harus mencermati nilai-nilai informasi yang disuguhkan oleh para blogger (pengguna blog). Bukan tidak mungkin di antara blogger, juga ada yang terlibat bisnis kepentingan.

Kehati-hatian dalam mencerna informasi memang sangat dibutuhkan. Informasi yang jujur adalah lebih penting. Hal ini kiranya sependapat dengan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Prof Ir H Mohammad Nuh DEA dalam khutbah Idul Adha di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), Kamis. Menurut dia, informasi yang jujur akan mencetak masyarakat yang produktif dan masyarakat yang produktif tidak hanya mengekor kepada media massa, tapi dia menentukan media massa.

Kiranya harapan masyarakat itu tak lama lagi akan tiba, seiring makin melebarnya para pengakses internet dan pengguna blog. (*)