Halaman Lain

▼

20.8.26

Menemukan Kembali Diri Sendiri


DARI semua persinggahan itulah—dari ruang rapat perusahaan hingga peternakan anjing, dari toko percetakan hingga dapur produksi telur asin—saya menemukan satu benang merah yang selama ini tersembunyi: bahwa menjadi wartawan bukanlah sebuah profesi.

"Menjelang akhir, saya justru bertemu dengan versi diri saya yang paling muda—yang dulu bermimpi tanpa takut gagal. 

Artikel ketujuh dari 9 ini adalah surat cinta untuk diri saya yang hilang. Pelajaran di baliknya: kita tidak pernah benar-benar kehilangan diri, kita hanya terlalu sibuk menjadi orang lain."

Menjadi wartawan adalah cara berada, cara memaknai dunia.

Ketika kita sudah terbiasa memaknai dunia dengan cara tertentu, kita tak bisa benar-benar berhenti menjadi wartawan—kita hanya berganti medan pertempuran.

Di kandang anjing, saya menyadari bahwa liputan terbaik yang pernah saya tulis bukanlah yang paling banyak dibaca, melainkan yang paling jujur. 

Kejujuran itu kini saya temukan dalam kesederhanaan makhluk yang tak pernah berbohong.

Anjing Herder tidak bisa berpura-pura. Mereka menunjukkan apa adanya. Dalam dunia yang penuh rekayasa citra, mereka adalah pengingat bahwa autentisitas adalah nilai yang tak tergantikan.

Kini saya menyadari, warisan terbesar seorang mantan wartawan bukanlah liputan viral atau jurnalisme spektakuler. 

Warisan terbesar adalah kemampuannya melihat benang merah di balik kekacauan—dan kemampuan itu tidak saya pelajari di ruang redaksi, melainkan di kandang anjing, di dapur telur asin, di toko percetakan, dan di ruang rapat yang sunyi.

Pesan Utama
Profesi bisa ditinggalkan, tapi cara kita memaknai dunia akan tetap melekat. 

Warisan terbesar adalah kemampuan melihat keteraturan di tengah kekacauan—dan kemampuan itu ditemukan di tempat-tempat yang paling tak terduga.